Ruang Literasi

Lentera Rimba

Tanah Dijual, Masa Depan Dicuri
Umum

06 Feb 2026

Tanah Dijual, Masa Depan Dicuri

Di bawah kanopi yang dulu bernapas kehidupan, suara-suara kecil kini hilang. Di Sumatera, tempat orangutan melambai dari dahan-dahan yang semakin jarang, udara yang dulu segar berubah menjadi pekat—kabut asap menutup mata anak kecil yang ingin berlari ke sawah, menutup mulut petani yang ingin bernafas. Lahan gambut yang seharusnya menjadi penyimpan air dan karbondioksida kini menjadi bara yang menyala, mengeluarkan napas panjang dari bumi yang tersiksa. Ketika api merambat, ia tidak hanya membakar pohon; ia membakar kenangan, tradisi, dan masa depan generasi yang berhak atas hutan yang utuh.Di Kalimantan, malam tidak lagi sunyi. Mesin-mesin berat dan truk membawa potongan-potongan hutan ke pabrik-pabrik jauh dari kampung halaman. Bekantan kehilangan dahan tempat bertenggernya, gajah kehilangan jalur yang dulu dinikmati selama berabad-abad. Sungai yang dulunya memberi kehidupan kini mendapati dirinya tercemar—lendir tambang, sedimen, dan janji-janji investasi yang mengabaikan keseimbangan. Masyarakat adat yang menjaga hutan selama ratusan tahun menjadi saksi bisu dari fragmen-fragmen tanah leluhur mereka yang terambil sedikit demi sedikit.Di tanah Papua, yang kaya akan suara-suara burung endemik dan hutan keluasan tak terhingga, traktor dan jalur tambang membuka pintu-pintu kehancuran. Tambang-tambang raksasa menggali perut bumi, meninggalkan bekas luka yang tak mudah sembuh—tailing mengalir, air keruh menyentuh sumber kehidupan komunitas. Anak-anak adat yang dulu memetik buah-buahan hutan kini bertanya: apa arti tanah ketika mereka tidak lagi diizinkan menjaga dan merawatnya? Ketika hak dan budaya tersingkir untuk keuntungan, air mata tak selalu jatuh; kadang-kadang ia berubah menjadi penolakan yang sunyi.Di pulau Jawa, kehidupan berdenyut cepat di antara beton dan asap. Kota-kota penuh dengan kendaraan yang membuang napas hitam, dan anak-anak menatap langit yang tak pernah benar-benar biru lagi. Banjir datang lebih sering, bukan sekadar sebagai peringatan alam, tetapi sebagai cermin dari sistem yang lupa memperhitungkan nilai paru-paru kota—hutan kota, lahan terbuka, sungai yang bersih. Mereka yang tinggal di permukiman padat merasa dampaknya setiap hari; mereka yang menabur polusi merasakan sedikit, atau memilih untuk tidak melihat.Sulawesi menghadapi irama yang lain: laut yang merintih di bawah pukulan jaring destruktif, tulang karang yang patah menjadi pemandangan suram. Nelayan tradisional melihat tumpahan kehidupan laut menipis. Sedangkan di pesisir dan pulau-pulau kecil — Kepulauan Riau, Nusa Tenggara, Maluku — pasir diperas, mangrove ditebas, dan tepian pulau-pulau kecil terkikis oleh naiknya air laut. Rumah-rumah yang dulu berdiri di tepi pantai kini bergeser ke daratan, dan identitas komunitas pesisir ikut terkikis.Di atas semua itu, ada wajah-wajah manusia: seorang ibu di Riau yang menutup hidung anaknya saat asap datang; seorang nelayan di Sulawesi yang pulang dengan perahu yang kosong; seorang pemuda Papua yang melihat tanah leluhur berubah menjadi jalan logam; penduduk kota yang terkena banjir dan menatap mobil yang terbawa arus. Mereka bukan statistik. Mereka adalah cerita, keluarga, harapan yang rapuh.Tindakan sudah ada—program restorasi gambut, penegakan hukum terhadap pembakaran, kawasan konservasi, inisiatif penghentian penangkapan ikan destruktif, pengakuan hak-hak masyarakat adat, serta kerja LSM dan komunitas lokal—namun langkah itu kerap datang terlambat, terpecah, atau tertahan oleh kepentingan ekonomi yang kuat. Solusi sejati menuntut lebih dari janji; ia menuntut perubahan sistemik: menghentikan perusakan habitat demi keuntungan jangka pendek, memberi ruang politik dan hukum bagi masyarakat adat, menegakkan tata kelola industri yang bertanggung jawab, serta transisi nyata menuju ekonomi yang menghargai alam.Jika kita membiarkan kebisuan ini berlanjut, generasi mendatang hanya akan mewarisi foto-foto hutan di buku cerita dan cerita-cerita lama tentang laut yang kaya. Kalau kita memilih berbeda—jika kebijakan melindungi, hukum ditegakkan, dan hati manusia tergugah—maka masih ada kesempatan untuk menambal luka-luka ini. Bukan dengan kata-kata kosong, tapi dengan usaha kolektif yang nyata: restorasi hutan yang luas, perlindungan kawasan pesisir, pengelolaan pertanian berkelanjutan, dan pengakuan penuh atas hak masyarakat yang paling berhak menjaga alam.Ini bukan sekadar tentang pohon atau ikan. Ini tentang harga diri sebuah bangsa yang menilai nasibnya dari bagaimana ia memperlakukan alam dan orang-orang yang paling bergantung padanya. Mari hentikan napas-napas yang tersengal dan kembalikan nafas bagi hutan, sungai, dan laut — demi anak cucu kita yang layak mewarisi Indonesia yang hidup, bukan yang pupus.Sumber yang direkomendasikan (untuk dicantumkan):- Mongabay Indonesia — liputan investigasi dan fitur lingkungan (mongabay.co.id)- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK) — data kebakaran hutan, kebijakan restorasi gambut (menlhk.go.id)- Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP) — data perikanan dan Di bawah kanopi yang dulu bernapas kehidupan, suara-suara kecil kini hilang. Di Sumatera, tempat orangutan melambai dari dahan-dahan yang semakin jarang, udara yang dulu segar berubah menjadi pekat—kabut asap menutup mata anak kecil yang ingin berlari ke sawah, menutup mulut petani yang ingin bernafas. Lahan gambut yang seharusnya menjadi penyimpan air dan karbondioksida kini menjadi bara yang menyala, mengeluarkan napas panjang dari bumi yang tersiksa. Ketika api merambat, ia tidak hanya membakar pohon; ia membakar kenangan, tradisi, dan masa depan generasi yang berhak atas hutan yang utuh.Di Kalimantan, malam tidak lagi sunyi. Mesin-mesin berat dan truk membawa potongan-potongan hutan ke pabrik-pabrik jauh dari kampung halaman. Bekantan kehilangan dahan tempat bertenggernya, gajah kehilangan jalur yang dulu dinikmati selama berabad-abad. Sungai yang dulunya memberi kehidupan kini mendapati dirinya tercemar—lendir tambang, sedimen, dan janji-janji investasi yang mengabaikan keseimbangan. Masyarakat adat yang menjaga hutan selama ratusan tahun menjadi saksi bisu dari fragmen-fragmen tanah leluhur mereka yang terambil sedikit demi sedikit.Di tanah Papua, yang kaya akan suara-suara burung endemik dan hutan keluasan tak terhingga, traktor dan jalur tambang membuka pintu-pintu kehancuran. Tambang-tambang raksasa menggali perut bumi, meninggalkan bekas luka yang tak mudah sembuh—tailing mengalir, air keruh menyentuh sumber kehidupan komunitas. Anak-anak adat yang dulu memetik buah-buahan hutan kini bertanya: apa arti tanah ketika mereka tidak lagi diizinkan menjaga dan merawatnya? Ketika hak dan budaya tersingkir untuk keuntungan, air mata tak selalu jatuh; kadang-kadang ia berubah menjadi penolakan yang sunyi.Di pulau Jawa, kehidupan berdenyut cepat di antara beton dan asap. Kota-kota penuh dengan kendaraan yang membuang napas hitam, dan anak-anak menatap langit yang tak pernah benar-benar biru lagi. Banjir datang lebih sering, bukan sekadar sebagai peringatan alam, tetapi sebagai cermin dari sistem yang lupa memperhitungkan nilai paru-paru kota—hutan kota, lahan terbuka, sungai yang bersih. Mereka yang tinggal di permukiman padat merasa dampaknya setiap hari; mereka yang menabur polusi merasakan sedikit, atau memilih untuk tidak melihat.Sulawesi menghadapi irama yang lain: laut yang merintih di bawah pukulan jaring destruktif, tulang karang yang patah menjadi pemandangan suram. Nelayan tradisional melihat tumpahan kehidupan laut menipis. Sedangkan di pesisir dan pulau-pulau kecil — Kepulauan Riau, Nusa Tenggara, Maluku — pasir diperas, mangrove ditebas, dan tepian pulau-pulau kecil terkikis oleh naiknya air laut. Rumah-rumah yang dulu berdiri di tepi pantai kini bergeser ke daratan, dan identitas komunitas pesisir ikut terkikis.Di atas semua itu, ada wajah-wajah manusia: seorang ibu di Riau yang menutup hidung anaknya saat asap datang; seorang nelayan di Sulawesi yang pulang dengan perahu yang kosong; seorang pemuda Papua yang melihat tanah leluhur berubah menjadi jalan logam; penduduk kota yang terkena banjir dan menatap mobil yang terbawa arus. Mereka bukan statistik. Mereka adalah cerita, keluarga, harapan yang rapuh.Tindakan sudah ada—program restorasi gambut, penegakan hukum terhadap pembakaran, kawasan konservasi, inisiatif penghentian penangkapan ikan destruktif, pengakuan hak-hak masyarakat adat, serta kerja LSM dan komunitas lokal—namun langkah itu kerap datang terlambat, terpecah, atau tertahan oleh kepentingan ekonomi yang kuat. Solusi sejati menuntut lebih dari janji; ia menuntut perubahan sistemik: menghentikan perusakan habitat demi keuntungan jangka pendek, memberi ruang politik dan hukum bagi masyarakat adat, menegakkan tata kelola industri yang bertanggung jawab, serta transisi nyata menuju ekonomi yang menghargai alam.Jika kita membiarkan kebisuan ini berlanjut, generasi mendatang hanya akan mewarisi foto-foto hutan di buku cerita dan cerita-cerita lama tentang laut yang kaya. Kalau kita memilih berbeda—jika kebijakan melindungi, hukum ditegakkan, dan hati manusia tergugah—maka masih ada kesempatan untuk menambal luka-luka ini. Bukan dengan kata-kata kosong, tapi dengan usaha kolektif yang nyata: restorasi hutan yang luas, perlindungan kawasan pesisir, pengelolaan pertanian berkelanjutan, dan pengakuan penuh atas hak masyarakat yang paling berhak menjaga alam.Ini bukan sekadar tentang pohon atau ikan. Ini tentang harga diri sebuah bangsa yang menilai nasibnya dari bagaimana ia memperlakukan alam dan orang-orang yang paling bergantung padanya. Mari hentikan napas-napas yang tersengal dan kembalikan nafas bagi hutan, sungai, dan laut — demi anak cucu kita yang layak mewarisi Indonesia yang hidup, bukan yang pupus.Sumber: Mongabay Indonesia — liputan investigasi dan fitur lingkungan (mongabay.co.id)Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK) — data kebakaran hutan, kebijakan restorasi gambut (menlhk.go.id)Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP) — data perikanan dan konservasi laut (kkp.go.id)Global Forest Watch — peta deforestasi dan data satelit (globalforestwatch.org)CIFOR / World Resources Institute — analisis kebijakan dan deforestasiWALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) — laporan advokasi dan kasus masyarakatWWF-Indonesia / The Nature Conservancy — inisiatif konservasi dan restorasiAmnesty International / Human Rights Watch — laporan dampak sosial tambang (untuk kasus Papua dan lainnya)Media nasional: Kompas, Tempo, The Jakarta Post — liputan isu lingkungan lokal dan nasional laut (kkp.go.id)Global Forest Watch — peta deforestasi dan data satelit (globalforestwatch.org)CIFOR / World Resources Institute — analisis kebijakan dan deforestasiWALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) — laporan advokasi dan kasus masyarakatWWF-Indonesia / The Nature Conservancy — inisiatif konservasi dan restorasiAmnesty International / Human Rights Watch — laporan dampak sosial tambang (untuk kasus Papua dan lainnya)Media nasional: Kompas, Tempo, The Jakarta Post — liputan isu lingkungan lokal dan nasional
Operasi Penanganan Bencana Longsor Kampung Pasir Kuning, Pasirlangu, Cisarua - Kab. Bandung Barat
Umum

26 Jan 2026

Operasi Penanganan Bencana Longsor Kampung Pasir Kuning, Pasirlangu, Cisarua - Kab. Bandung Barat

Cisarua, 26 Januari 2026 – Sudah dua hari berlalu sejak Sabtu kelam yang mengubah wajah Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu. Hari ini, suasana di kaki bukit Kabupaten Bandung Barat masih diselimuti duka dan aroma tanah basah yang pekat.Anggota kami, Miftahul Mochamad Rafli Rohidin (D-135 LN) dan Handi Irawan (D-136 LN), tiba di lokasi pada hari Minggu (25/01). Setelah registrasi di posko BASARNAS, kami langsung bergabung dengan Regu 5 tim kecil beranggotakan 20 orang yang menjadi bagian dari ribuan relawan di garda depan.Melawan Lumpur, Menjemput HarapanMedan di sini benar-benar menguji nyali. Bayangkan, longsoran sejauh 2009 meter menyapu area seluas 30 hektar. Di titik bawah, diameter longsoran melebar hingga hampir 600 meter.Tugas pertama kami pada hari Minggu kemarin adalah hal yang sangat teknis namun vital: Membuat jalur evakuasi. Lumpur yang sangat tebal mustahil dilewati tanpa pijakan. Kami memanfaatkan reruntuhan bangunan dan potongan bambu, menyusunnya di atas lumpur agar tim evakuasi bisa bergerak.Sepanjang hari, kami melakukan penyisiran dengan metode manual: menusuk tanah. Jengkal demi jengkal area terdampak kami kelilingi, berharap tongkat kami menemukan tanda-tanda dari 80 warga yang hingga saat ini masih dinyatakan hilang dalam timbunan.Tragedi yang Tak Memilih KorbanAda sisi menyedihkan dari demografi wilayah ini. Pasir Kuning awalnya hanyalah area perkebunan. Namun, ikatan kekeluargaan yang kuat membuat banyak anak-anak memutuskan membangun rumah di sana agar bisa dekat dengan orang tua.Di balik cerita warga, ada kesunyian mencekam di area dekat mahkota longsor. Di sana, proses evakuasi dilakukan secara tertutup karena adanya korban dari rekan-rekan TNI yang sedang berlatih gerilya saat bencana terjadi pada Sabtu dini hari tersebut. Atribut yang ditemukan di lapangan menjadi saksi bisu betapa cepatnya alam bisa merenggut nyawa, tanpa memandang siapa mereka.Realita di Lapangan: Etika dan KendalaMenjadi relawan bukan sekadar soal tenaga, tapi juga soal nurani. Kami sangat menyayangkan adanya oknum yang menyalahi etika SAR demi konten media sosial.Live TikTok di tengah evakuasi.Berteriak "Ada Mayat!" di HT tanpa sensor.Menyebar foto korban ke instastory.Hal-hal seperti ini bukan hanya mengganggu operasi, tapi juga melukai perasaan keluarga korban. Bencana bukan tontonan, dan kami di sini untuk menghormati setiap nyawa, baik yang selamat maupun yang telah tiada.Selain itu, kemajuan evakuasi saat ini memang dirasa lambat. Kami kekurangan cangkul, mesin alkon untuk menyemprot lumpur, dan alat berat yang bisa menjangkau titik sulit.Kondisi PenyintasWarga setempat mengalami trauma psikis yang parah. Saat ini, bantuan mulai berdatangan, namun masih diperlukan koordinasi lebih lanjut agar bantuan yang datang benar-benar sesuai dengan daftar kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar apa yang dibayangkan oleh orang luar.Kami dari PPRPG Dewadaru akan tetap di sini, menjaga semangat di antara sisa-sisa lumpur dan doa-doa yang belum putus. Perjuangan masih panjang.Mari bergerak dengan empati, bekerja dengan etika.Laporan oleh: Miftahul M. Rafli & Handi Irawan (PPRPG Dewadaru)